Pendidikan Berbasisi Moral

Standar

Biang merosotnya mutu pendidikan di negeri kita adalah krisis moral dari pihak, terutama yang berkompeten dalam dunia pendidikan . Ini terjadi sudah lama. Pemerintah Orde Baru membangun Sekolah Dasar (SD) Inpres, hingga di pelosook dan terpencil.
Tetapi apa yang terjadi tangan-tangan tak bertanggung jawab nergentayangan mengambil keuntunga sebanyak-banyaknya dari proses pembangunanya. Kualitas konstruksipun tak biasa diandalkan. Dalam waktu singkat berita tentang gedung SD inpres roboh, retak, dikosongkan, mewarnai media massa.
Selain bacaan dana proyek diperparah oleh penyimpangan-penyimpangan anggaran pendidikan. KKN pun marak di dunia itu. Imbas dari semuanya adalah tak adanya fasilitas yang memadai untuk proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dan dana pendidikan yang minim.
Seiring dengan persoalan tersebut, materi yang berbasis moral mulai dipotong menjadi lenih pendek, jam Pendidikan Agama mulai dikurangi, jam Pendidikan Pancasila dipangkas, peljaran Bahasa Jawa yang kental dengan budaya tata kram tak lagi diperketat jam dan bahasannya.
Para guru pun berubah menjadi bak seorang pekerja. Tugasnya menyampaikan materi pesanan kurikulum masing-masing kepada siswa. Dengan dalih menegakkan profesionalitas, mereka tak melakukan pendampingan dan pembimbingan. Prinsip mereka ”saya di bayar” saya mengajar.”
Fakta ini menciptakan kader-kader bangsa yang tidak mengenal tata krama, moral dan nilai agama. Jika hal ini tidak segera ditangani, sangat tidak mustahil keboborakan masa depan bangsa akan anak beranak.
Kompleksitas masalah ini tidak akan lepas dari akibat tidak bermoralnya para oknum pihak yang bersentuhan dengan dunia pendidikan. Mereka-mereka itulah yang sebenarnya memberikan kontribusi besar terhadap merosotnya mutu pendidikan kita. Para pendidik seharusnya juga sepakat menjadikan moral sebagai panglima dalam memerangi kebodohan, sekaligus memutus rantai moral di negeri in. Budaya korupsi harus segera berakhir dengan sentuhan KPK dan penengak hukum lainnya. Sementar pemutusan rantai ini adalah dengan memberkan sntuhan agama dan sosial kepada anak didiknya bahwa pelanggaran moral adalah penyakit yang menyebabkan krisis di negeri ini semakin kronis. Imabasnya di dalam dunia pendidikan adalah turunya kualitas, menumpuknya angka pengangguran kalnagan terpelajar.
Dengan pendidikan moral yang kuat para pengambil kebijakan juga tak akan melakukan penyimpangan dalam menunaikan tugas. Mereka bisa bersikap amanah. Semoga dalam momentum Hardiknas kali ini, dunia pendidikan kita tampak bersinar. Mengejar target rangking teratas tidak begitu penting. Semangat memperbaiki mutu adalah yang lebih penting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s